Sabtu, 16 Mei 2009

Kerusakan Hutan

Bagaimana Kondisi Hutan ?

1. Kondisi Hutan

Tutupan hutan Indonesia tinggal 98 juta hektar, dan paling sedikit setengahnya dipercaya telah mengalami degradasi akibat kegiatan manusia.

Sejak tahun 1996, deforestasi meningkat sampai 2 juta

Jenis hutan lindung dan kawasan konservasi yang 'masih dianggap' dalam kondisi baik pun saat ini mengalami tekanan sangat berat, mulai dari praktek illegal logging, kebakaran hutan serta tumpang tindihnya peruntukan antara hutan dan perkebunan kelapa sawit, HPH serta pertambangan.

Masyarakat lokal yang secara adat menguasai dan mengelola kawasan-kawasan tersebut dengan cara yang arif, terus dikesampingkan dalam proses pengambilan keputusan dan perlindungan kawasan. Mereka bahkan diasingkan dari tanahnya sendiri. Luasan kawasan ini kurang dari 30% luasan Indonesia dan tersebar di pulau dan perairan Indonesia.

2. Apa Penyebab Kerusakan Hutan

Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang mulai beroperasi sejak tahun 1970-an. Hingga 2001 pemerintah telah mengeluarkan izin HPH sebanyak 355 dengan luas total 38.025.891 hektar
Hutan Tanaman Industri (HTI) merupakan penyebab kerusakan hutan yang cukup signifikan. Hingga tahun 2000, telah keluar izin HTI sebanyak 175 dengan luas total 7.861.251 hektar2. Diperkirakan hanya 2 juta ha lahan yaang telah ditanami, sedangkan sisanya menjadi lahan terbuka yang terlantar dan tidak produktif

Pembangunan perkebunan kelapa sawit sampai dengan Juni 2001, dari 80% pengusaha industri besar kelapa sawit telah mengkonversi lahan hutan sebesar 2,7 hektar

Kesenjangan antara permintaan dan pasokan kayu legal mencapai 35-40 juta meter kubik per tahun. Kesenjangan tersebut dipenuhi dari Pembalakan haram (Ilegal logging).

Industri pengolahan kayu yang bergantung terhadap kayu yang ditebang secara illegal mencapai 65% dari pasokan total ditahun 20005. Data World Bank menyebutkan hingga tahun 1990 volume kerusakan hutan akibat pembalakan haram telah mencapai. 80.000 hektar

Kebakaran hutan yang dihadapi Indonesia dari tahun 1997 hingga tahun 1998 menurut data BAPPENAS telah terjadi kasus-kasus kebakaran hutan yang menyebabkan kerusakan hutan seluas 9.756.000 hektar.

Pertambangan juga telah memberikan kontribusi bagi kerusakan hutan Indonesia. Salah seorang dosen tambang ITB menyatakan bahwa kontribusi tambang bagi kerusakan hutan 'hanya' 1)%. Lebih parah dari sekedar hilangnya tegakan pohon, di lokasi-lokasi pertambangan terlihat jelas bagaimana wajah hutan Indonesia yang hancur karena penggalian, pembuangan limbah batuan (over burden) dan limbah tailing serta aktivitas penunjang operasi tambang lainnya.

Beberapa perusahaan yang akan menghentikan kegiatan tambangnya menyatakan tidak mampu menghutankan kembali bekas-bekas lubang tambang dan kolam limbah mereka. Lubang-lubang itu dibiarkan terus menganga dan menjadi danau asam beracun pasca penambangan. Begitu pula kolam limbah tailing akan jadi hamparan pasir yang mengandung logam berat dalam kurun waktu

3. Apa akibat- akibat Kerusakan tersebut

Tahun 2000, Enam belas propinsi telah diidentifikasi sebagai berpotensi mengalami bencana banjir dan longsor dengan 918 titik rawan banjir dan 21736 titik rawan longsor. Daerah-daerah tersebut memiliki kondisi tanah yang labil dan dengan hilangnya vegetasi membuat kawasan ini makin rentan terhadap bencana tersebut.

Setelah musim penghujan berlalu, bencana berikutnya telah menanti yaitu kebakaran hutan. Bak matahari terbit di timur, bisa dipastikan tiap tahunnya pada musim kemarau titik-titik panas (hot spot) ditemukan hampir diseluruh bagian hutan Indonesia. Di Kalimantan misalnya, data UNDP menyebutkan bahwa selama tahun 1997 - 1998 terdapat 5,2 juta ha hutan yang terbakar

Hilangnya lahan mata pencaharian masyarakat lokal dan masyarakat asli yang hidupnya tergantung dari hutan-hutan sekitarnya. Akibatnya terjadi pemiskinan struktural pada masyarakat pedesaan dimana industri ekstraktif datang.

Berkurangnya sumber-sumber air, dan tercemarnya sumber-sumber air (sungai, mata air, danau) dan sumber mata pencahariaan (laut), artinya akan terjadi penurunan kualitas lingkungan hidup yang akan berpengaruh kepada kondisi kesehatan.

Laju kepunahan spicies flora fauna yang tinggi. Jenis-jenis satwa dan taanamn tertentu makin sulit ditemui karena tergusurnya habitat daan populasi mereka.

Bertambahnya hutang dan pembiayan negara untuk biaya pemulihan lingkungan dan 'subsidi' bagi masyarakat miskin. Dll, dll, dll

Perusakan Hutan di ASIA Tenggara.

Negara Tingkat kerusakan
Indonesia 0,5 juta ha/ tahun
Fhilipina 100.000-250.000 ha/ tahun
Thailand 333.000 ha/ tahun
Malaysia 100.000 ha/ tahun

Berita Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar