Selasa, 12 Mei 2009

Koalisi oh Koalisi

INILAH.COM, Jakarta – Pemilu baru akan berlangsung lebih sebulan lagi. Satu hasil yang 99% pasti: pemilu bakal menghasilkan pemerintahan koalisi. Bedanya kini, pemenang Pemilu yang bakal memimpin koalisi itu. Siapapun, Golkar, PDIP, Demokrat, atau bahkan PKS.
Siapa? Yang baru bisa diraba saat ini hanyalah hasil survei politik. Itu pun tak bisa jadi pegangan. Kecuali karena politik berubah seperti angin, tak sedikit pula lembaga survei yang ‘dibeli’ parpol.

Menurut guru besar ilmu politik Universitas Indonesia (UI) Maswadi Rauf, siapapun yang memenangkan Pemilu Legislatif, parpol tersebutlah yang akan mengubah formasi koalisi dan pencapresan. Termasuk pula jika Demokrat, sebagaimana hasil survei politik yang diragukan itu, pada akhirnya jadi pemenang.

“Jelas nantinya Demokrat akan menjadi pusat koalisi. Itu juga berlaku bagi Golkar jika menjadi pemenangnya,” katanya kepada INILAH.COM, Jumat (6/3) di Jakarta. Menurut dia, jika Demokrat menang, semakin memudahkan jalan Susilo Bambang Yudhoyono untuk kali kedua ke Istana.

Kondisi ini pula, ditekankan Maswadi, kenapa seluruh parpol menanti hasil pemilu legislatif untuk menentukan sikap sebagai pijakan untuk mengatur posisi dalam bangunan koalisi. “Makanya, kenapa hasil pemilu legislatif menjadi pijakan koalisi,” tegasnya.

Jika konsisten dengan hasil survei, pemilu legislatif mendatang akan akan menemukan tiga besar parpol, yaitu Partai Demokrat, PDIP dan Partai Golkar secara berurutan. Kondisi ini pula, Maswadi menilai akan mengubah pencapresan partai politik.

“Bisa saja Jusuf Kalla akan tetap bergandengan dengan SBY. Kalau untuk Mega sulit untuk mundur dari pencapresan, karena sudah menjadi keputusan final partai,” papar Maswadi.
Untuk SBY-JK jilid II, Maswadi memberi catatan hal itu pun tidak mudah terbangun. Pasalnya, masing-masing partai pendukung mengalami ketegangan politik.

Sejauh ini, hasil survei mayoritas lembaga menempatkan Demokrat menjadi pemenang Pemilu. Hanya saja, hasil survei itu sendiri memunculkan banyak kontroversi dan keraguan. Pasalnya, tak sedikit parpol yang menjadikan lembaga survei sebagai konsultan politik sehingga kemurnian hasil survei layak diperdebatkan.

Bahkan, Demokrat dituding bermain mata dengan lembaga survei sehingga hampir selalu berada di posisi teratas. Betul, hingga kini, belum ada investigasi atau pengakuan perihal keterlibatan Demokrat dengan lembaga survei tertentu.

Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (Persopia) sebagai lembaga penjaga moral dan kredibilitas lembaga survei hingga kini masih belum menunjukkan taringnya. Mereka belum bersikap atas tuduhan dan gunjingan yang melekat terhadap lembaga survei yang melacur ke parpol dan sebaliknya.

Terlepas dari itu, jika hasil survei lembaga opini publik terkonfirmasikan kebenarannya melalui pemilu legislatif, 9 April kelak, dan Demokrat menjadi pemenangnya, apa yang terjadi? Jelas, akan mengubah seluruh formasi koalisi, pencapresan, hingga agenda semua parpol.

Termasuk akan meluluhlantahkan ragam blok menjelang pemilu seperti blok M, blok S, blok J, blok perubahan, maupun poros bumi yang sejatinya memang tak pernah ada hingga usai pemilu legislatif. “Apa betul sekarang ini sudah ada Blok S (Susilo Bambang Yudhoyono), Blok M (Megawati Soekarnoputri) dan Blok J (Jusuf Kalla). Blok itu maksudnya apa, saya tidak percaya blok itu ada sekarang," kata Sultan HB X di Cirebon, Jumat (6/3).

Jika merujuk survei terbaru Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada Februari lalu, yang dilakukan terhadap 2.455 jumlah sampel dengan margin of error +/- 2,4% pada tingkat 95% menunjukkan partai Demokrat masih berada diatas dengan 24,3% suara. Posisi kedua ditempati PDIP dengan 17,3% dan Golkar posisi ketiga mendapatkan 15,9% suara.

Sebelumnya, selama periode survei November-Desember beberapa lembaga survei mayoritas menempatkan Partai Demokrat sebagai juara jika pemilu dilaksanakan saat survei berlangsung. Seperti Cirus Grup November menempatkan Partai Demokrat 17%, Partai Golkar 15%, dan PDIP 15%. Danareksa juga demikian, Partai Demokrat 24%, PDIP 18%, dan Partai Golkar 14%.
Sedangkan di periode Desember, LP3ES menempatkan Partai Demokrat 25%, PDIP 20%, dan Partai Golkar 16%. Reform Institute pimpinan Yudi Latif juga demikian, Partai Demokrat 26%, PDIP 18%, dan Partai Golkar 14%. Sedangkan LSI Saiful Mujani menempatkan Partai Demokrat 23%, PDIP 17%, dan Partai Golkar 13%. [I4]

Berita Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar