Minggu, 14 Juni 2009

MENYIKAPI KASUS PRITA DAN MANOHARA

Pekan lalu, ada berita cukup 'mengagetkan' di lingkungan kantor saya. Seorang junior yang selama ini terkenal 'anti' dengan Facebook, tiba-tiba mencari tahu bagaimana menjadi member jaringan sosial itu.

"Hei, bukannya kau anti-Facebook." Begitu kalimat bernada sindiran sering disematkan ke pundak junior itu.

"Bukan begitu bang. Aku bikin account Facebook biar bisa ngasih dukungan ke Prita," junior itu membela diri.

Ya, memang Prita yang dimaksud adalah Prita Mulyasari. Perempuan berusia 32 tahun itu sejak pekan-pekan terakhir memang menjadi buah bibir karena perseteruannya dengan Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutra, Tangerang. Dan lewat Facebook lah, saya juga mendapat permintaan untuk mendukung Prita, cerita menyedihkan Prita menjadi begitu cepat beredar.

Ada lagi cerita tentang junior yang lain. Kali ini bukan di lingkungan kantor, melainkan di rumah. Begitu melihat tayangan di televisi, putri saya itu yang baru berusia 4 tahun pada akhir April lalu, berucap, "Manohara lagi...Manohara lagi,"

Memang benar, yang dimaksud adalah Manohara Odelia Pinot, model cantik yang berseteru dengan suaminya, Tengku Fakhry dan keluarga Istana Kelantan.

Protes anak saya itu terasa wajar, karena hampir di setiap infotainment, Manohara muncul.

Prita dan Manohara, dengan latar belakang yang berbeda, memang benar-benar menjadi primadona media massa, menyaingi tiga pasangan para calon presiden dan calon wakil presiden yang akan berlaga dalam pemilu presiden pada Juli mendatang.

Anda boleh tidak sepakat, kalau saya memandang pendiamnya Prita, perempuan dengan dua balita, tidak kalah menariknya dengan Manohara berikut kecantikan dan lingkungan selebritasnya.

Kedua perempuan ini memang pejuang dengan cara mereka masing-masing. Namun, setelah kisah heroik yang mereka lakoni, mulai kelihatan perbedaan di antara keduanya terutama menyangkut pandangan masyarakat.

Simpati kepada Prita terus menggelembung dari berbagai kalangan, sementara orang mulai bertanya-tanya kepada Manohara-dan juga ibunya.

Didukung para capres

Tidak tanggung-tanggung, dukungan terhadap Prita datang dari semua capres yang akan berkompetisi pada Pilpres 2009. Bahkan, seorang Jusuf Kalla harus sampai menelepon langsung kepada Jaksa Agung untuk menanyakan kasus Prita. Capres Megawati Soekarnoputri bahkan menemui langsung perempuan berkerudung itu beberapa hari lalu.

Bantuan hukum kepada Prita juga terus berdatangan. Dan, Prita pun punya keyakinan bisa memenangi perkaranya di pengadilan. "Optimistis ya insya Allah," katanya kepada saya.

Dukungan paling anyar datang dari rekan-rekan sekerja Prita di Grup Sinar Mas. Dikomandani oleh Managing Director Sinar Mas G. Sulistiyanto, karyawan kelompok usaha itu memberikan bantuan spontan kepada Prita sekitar Rp24 juta. Prita masih tercatat sebagai Kepala Bagian Customer Care di bank tersebut dengan kinerja selama ini memuaskan.

"[Bantuan] itu inisiatif dari pribadi karyawan-karyawan dan sifatnya spontan bukan rekayasa dari perusahaan," ujar seorang karyawan Sinar Mas Grup.

Sulistiyanto juga memastikan bahwa Prita tetap menjadi bagian dari Bank Sinar Mas dan berdasarkan sejumlah pertimbangan, antara lain kemanusiaan, perusahaan tetap memenuhi seluruh hak-hak Prita sebagai karyawan selama yang bersangkutan menjalani proses pengadilan.

"Kami juga ingin menunjukkan solidaritas kepada Prita dan keluarganya dengan memberikan dukungan moral maupun material," tutur Sulistiyanto.

Dengan mimik tenang dan terlihat cerah, Prita berucap singkat "subhanallah, saya tidak menyangka," ketika saya bertanya bagaimana perasaannya mendapat kunjungan dari rekan sekerjanya.

Prita juga mengaku masih tetap mendapatkan gaji semasa mengikuti persidangan meski dirinya tidak bisa masuk kantor. "Alhamdulillah, masih dapat [gaji]," ujarnya sambil menggendong salah satu anaknya.

Nuansa berbeda ketika saya mencermati kisah bak Cinderela dari seorang Manohara. Meski dikabarkan seperti mendapat durian runtuh karena mendapatkan kontrak senilai Rp2,5 miliar untuk membintangi sinetron, Manohara dan ibunya kini harus berhadapan dengan nada sinis beberapa orang yang selama ini getol membantunya. Mulai muncul pertanyaan tentang kebenaran cerita tragis Manohara itu.

Tidak berlebihan, kalau dukungan masyarakat terhadap si cantik Manohara mulai menyusut pekan-pekan lalu. Dengan menggunakan idiom di dunia politik, 'elektabilitas' Manohara kita turun drastis.

Memang ada gejala bahwa media massa amat menentukan nasib kedua perempuan pejuang itu. Media massa lah salah satu kelompok yang menjadikan Prita dan Manohara menjadi terkenal-bahkan bak pahlawan.

Jadi tinggal kita tunggu, apakah kisah Prita dan Manohara ditutup dengan happy ending atau seperti cerita yang sudah-sudah, kita semua sibuk dengan urusan masing-masing tanpa pernah mengingat lagi derita kedua orang itu-yang bisa menimpa siapa saja, termasuk kita atau bagian dari keluarga kita. (eries.adlin@bisnis.co.id)

Berita Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar