Rabu, 19 Agustus 2009

Kemenangan SBY ( Susilo Bambang Yudhoyono )

Hari ini, atau sehari setelah perayaan kemerdekaan proklamasi kemerderkan RI ke 64, Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan pemenang pilpres yakni pasangan SBY-Boediono. Seperti telah diprediksi sebelumnya dan juga berdasarkan keputusan MK yang menolak gugatan pasangan Mega Pro dan JK Win serta hasil quick count, pasangan SBY Booedino memenangkan pemilihan presiden dengan suara mayoritas yakni 61 %. Dengan ini pilpres hanya dilakukan satu putaran. Putusan KPU secara kelembagaan tentang pilpres merupakan hadiah agung dan kemerdekaan besar bagi SBY.

Presiden SBY terasa perfect kemerdekaannya, ancaman pembunuhan terhadap dirinya berhasil dibongkar, Noordin M. Top untuk sementara dipaksa tiarap, program stimulus ekonomi disetujui DPR, pengajuan utang baru juga sukses didapatkan khususnya dari ADB (Bank Pembangunan Asia), petani dibuat sumringah dengan pengumuman swasembada beras, guru, PNS, TNI/POLRI, dibuat tersenyum dengan kenaikan gaji, TKI bermasalah di luar negeri mengangkat syukur atas tiket gratis untuk pulang ke Indonesia-khususnya saat kampanye pilpres, sehari sebelum perayaan HUT kemerdekaan RI, Mentri Pemberdayaan Aparatur Negara mengusulkan kenaikan gaji presiden tiga kali lipat dari sebelumnya, kemerdekaan yang sempurna bagi SBY.

Para tukang sapuh di jalanan, pemilik gubuk di bantaran kali Ciliwung, pengamen dan pemulung, penduduk di perbatasan, warga negara pedalaman dan puncak Jayapura, tetap seperti biasanya, menjalankan hidup tanpa mengerti apa sebenarnya makna kemerdekaan bangsanya, makna bahwa mereka pemilik identitas syah-warga negara Indonesia (WNI). Konon, upacara bendera dilakukan untuk menambah rasa cinta tanah air, dan memperkuat nasionalisme. Bagi sebagian anak bangsa, cinta tanah air dan nasionalisme tak lebih dari sekedar mereka merasa ber-Indonesia, mengakui dan memahami merah putih warna bendera dan burung garuda adalah pelengkap foto presiden dan wakil presiden yang kebetulan terpanjang di dinding kantor tetangga. Dan, ikut-ikutan lomba panjat pinang, makan krupuk, mengejar bebek di saat Agustusan adalah arisan “wajib” anak bangsa yang (di)pinggirkan, di hari Indonesia merdeka.

Kemerdekaan perfect SBY juga diwujudkan dengan kemerdekaan politik dalam koalisi. SBY dalam hal ini berhasil mendapatkan dukungan politik setidaknya dari PDIP. Persetujuan SBY terhadap Taufik Kiemas untuk menjadi ketua MPR dengan dukungan Demokrat terasa klop dengan kompensasi Parti Moncong Putih “membiru” di parlemen. Lebih dari itu, Jika Ical (Aburizal Bakrie) didaulat menjadi komandan Golkar menggantikan JK pada Oktober nanti, maka kesempurnaan SBY sebagai warga negara dan kepala negara sangat sempurna. Kemerdekaannya kuadrat. Dengan ini, dukungan Golkar pun pasti di dalam genggaman SBY. Hari ini, di tengah mempringati proklamasi kemerdekaan RI ke 64, SBY merdeka sempurna!

www.maubaca.com

Berita Terkait



Tidak ada komentar:

Posting Komentar